
Bogor – Para penegak hukum yang menghukum mantan Wakil Walikota Bogor, Mochammad Sahid, dinilai tidak adil. Sejumlah anggota dewan yang diduga terlibat korupsi bersama Sahid, justru minta diperiksa, bahkan siap dipenjara. Citra penegak hukum benar-benar terlecehkan oleh sikap berani dan bertanggung-jawab ini.
Wakil Ketua DPRD Kota Bogor Lismo Handoko (dari PDIP) menyatakan, kejaksaan harus bertindak adil dengan menyeret semua anggota dewan yang terlibat dalam kasus itu (APBD Gate 2002), bukan hanya menghukum Sahid sendiri.
‘’Seret semua ke penjara tanpa kecuali, termasuk Achmad Ru’yat (kini wakil Walikota Bogor). Saya juga siap masuk bui, biar sekalian saya mati di sana,’’ katanya dengan nada berapi-api.
‘’Saya berani ngomong gini, karena saya merasa nggak bersalah,” tegas Lismo kepada Jurnal Bogor di ruang kerjanya, kemarin.
“Seharusnya Kejari menjebloskan semua yang terlibat, jangan pilih-pilih dan jangan mau dimanfaatkan oleh kepentingan-kepentingan. Kalo Sahid masuk bui, semua harus masuk, termasuk saya. Saya sangat prihatin dengan dijebloskannya Sahid ke Paledang, putusannya korupsi berjamaah, eh yang diperiksa satu orang. Sama dengan shalat berjamaah, kalo imamnya ditangkap maka ma’mum nya harus ikut ditangkap,” tuturnya.
Hal senada dituturkan Dedi Supriyadi. Politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN) ini mengaku siap diperiksa, jika memang Kejaksaan melakukan. “Saya siap jika dipanggil Kejaksaan, toh kami tidak bersalah. Dulu pun saya dipanggil kejaksaan terkait kasus ini, saya datang karena tidak merasa bersalah,” kata Dedi.
“Di dewan itu tidak ada proyek, uang yang dianggap korupsi itu gaji dan tunjangan dewan selama lima tahun. Kalau memang uang tersebut
dianggap korupsi, berarti selama 5 tahun dewan tidak gajian. Kejaksaan silahkan membukanya secara transparan biar masyarakat tahu,” tambahnya.
Dedi mengaku, di dewan itu hanya melaksanakan sistem dan tata tertib serta aturan. “Menurut aturan begini caranya pembahasan anggaran, prosedurnya kita lakukan dan anggaran diputuskan oleh pleno paripurna dewan dan eksekutif (Pemkot Bogor). Jadi kenapa harus dewan saja yang diperiksa dan dituduh, eksekutif pun harus ditarik. Oleh karena itu kami minta keadilan, jangan hanya wakil rakyat yang dikoyak-koyak, eksekutif pun harus,” tegasnya. “Waktu itu saya juga mengembalikan uang sekitar 80 jutaan ke kejaksaan, kwitansi tanda terimanya masih ada. Kalau mau buka-bukaan, hayu,” katanya.
Lain halnya dengan Wakil Ketua DPRD Kota Bogor lainnya Iwan Suryawan, ketika dimintai tanggapannya ia enggan berkomentar. “Mohon maaf sebelumnya, saya belum bisa berkomentar,” tutur Iwan.
Sementara itu situasi di gedung wakil rakyat berbeda dari sebelumnya, sejumlah anggota dewan terlihat tidak ada di tempatnya. Meskipun ada, mereka enggan memberikan komentar apa-apa.
Lalu bagaimana dengan Kejari? Apakah semua anggota dewan yang terlibat bakal diperiksa dan bernasib sama seperti Sahid? Menurut Kejari Kota Bogor Surung Aritonang, dalam waktu dekat pihaknya akan menerbitkan surat perintah penyidikan bagi anggota dewan yang terlibat pada waktu itu.
“Kami akan segera terbitkan surat perintah penyidikan, namun dalam penyidikan nanti akan dilakukan secara proporsional sesuai dengan fungsi dan peran masing-masing anggota dewan pada waktu itu. Kami akan tegakkan supremasi hukum di Kota Bogor,” ujarnya.
“Terkait masalah uang yang dikembalikan oleh sebagian anggota dewan sebesar 1, 15 miliar, saat ini dalam keadaan aman dan tetap utuh di Kas Daerah Pemkot Bogor,” tegasnya.
Menanggapi hal tersebut kuasa hukum Sahid, Jhon Pitter Simanjuntak mengaku akan melihat apakah komitmen Kejari untuk memeriksa angggota dewan yang lain, bisa diwujudkan apa tidak.
“Saya senang dengan ucapan kejari yang akan memeriksa 44 anggota dewan yang lain, kita lihat saja nanti apakah ucapannya akan dibuktikan apa tidak. Karena sayapun tidak rela jika hanya Sahid yang dikorbankan, sementara korupsi ini dilakukan secara kolektif. Saya juga akan mengirimkan surat kepada Kejaksaan Agung agar siapapun Kejari di Kota Bogor untuk menuntaskan kasus korupsi. Kalau tidak, Kejaksaan Agung harus menjewer Kejari Bogor,” tutur Jhon.
Dulu, Sahid Dicuekin

Dijebloskannya Sahid ke Lapas Paledang, ternyata menyodot perhatian sejumlah politisi PDI Perjuangan. Ketua DPC PDIP Kota Bogor Raflie Mukti mengunjungi kediaman Sahid di perumahan Indraprasta beberapa jam setelah penangkapan.
Sedangkan Ketua DPD PDIP Jawa Barat Rudi Harsa Tanaya langsung mengunjungi Sahid ke Lapas Paledang, kemarin. Kendati belum menengok mantan ketuanya, caleg PDIP Lismo Handoko telah menghubungi Hj. Suwarsih, istri Sahid lewat telepon seluler.
“Mereka memberikan dukungan moral kepada bapak beserta keluarga. Saya sangat menghargainya, itu membuktikan mereka memiliki perhatian,” kata Hj. Suwarsih kepada Jurnal Bogor, kemarin.
Akan tetapi, sambung Suwarsih, kepedulian 40 mantan anggota DPRD Kota Bogor periode 1999-2004 masih sangat minim. Padahal, mereka juga diduga terlibat dalam kasus korupsi yang menimpa Sahid.
“Saat bapak (Sahid) sakit jantung, cuma Pak Lismo yang masih menunjukkan itikad baik. Ada 44 anggota dewan saat bapak (Sahid) menjadi ketua. Empat orang sudah meninggal, sisanya kurang perhatian, termasuk Achmad Ru’yat,” ungkap Suwarsih saat ditemui dikediamannya, usai mengantarkan makanan kepada Sahid.
Suwarsih menceritakan, sebelum menjabat Wakil Walikota Bogor, Sahid sempat mencoba menghubungi Achmad Ru’yat, tapi tak direspon. “Telpon tak diangkat, SMS pun tak dibalas. Padahal, bapak hanya ingin berkomunikasi. Ini ada apa?,” ucap Suwarsih, sambil melotot matanya.
Dengan suara lantang, Suwarsih membeberkan keluh-kesah Sahid selama menjalani proses persidangan. Ia mengatakan, Sahid terkena getah dari buah nangka yang dinikmati bersama.
“Penyakit jantung itu mungkin disebabkan terlalu banyak pikiran, lantaran cuma bapak yang disidangkan, lalu ditahan. Bapak pernah cerita. APBD disusun oleh panitia anggaran. Bapak saat itu menerima laporan, lalu melempar keputusan ke anggota dewan. Setelah disetujui, barulah bapak ketuk palu. Artinya, semua harus bertanggungjawab,” tegas Suwarsih.
Sampai saat ini, Suwarsih masih mempertanyakan tindaklanjut dari penuntasan kasus korupsi tersebut. “Ini belum tuntas. Semua orang yang diduga terlibat mesti diusut, serta disidangkan terpisah, sesuai kalimat yang tertera dalam putusan Mahkamah Agung Nomor 212 K
Pid.Sus/2008,”bebernya.
Lantas bagaimana kondisi kesehatan Sahid di Lapas Paledang? “Bapak membaik kesehatannya, bahkan tempak lebih tenang. Proses adaptasi juga tak akan sulit, sebab sudah pernah ditahan pada 2004. Kekhawatiran saya juga berkurang, karena di sana juga ada dokter,” papar Suwarsih, saat mengenakan baju ungu bergambar bunga.
Saat Suwarsih berkunjung, Sahid berpesan kepada keluarga untuk tetap tabah dan tegar. Sebab, kakak iparnya, Tati Herawati baru saja meninggal dunia. “Saya beserta keluarga disarankan untuk lebih berkonsentrasi pada pemakaman,” pungkas Sukarsih, lalu mengelus dada.
Aldho H I | Julvahmi
KOMPAS.com – Pagi-pagi sekali, puluhan warga Baduy Luar berduyun-duyun menuju rumah Jaro Dainah, Kepala Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Hari Kamis (9/4) itu, mereka akan ikut mencontreng di tempat pemungutan suara khusus di belakang rumah Jaro Dainah.
Acara pencontrengan diawali ceramah Jaro Dainah dan penyuluhan dari Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) Sapin, yang juga Sekretaris Desa (Carik) Kanekes. ”Santai, yang tenang memilihnya, dan yang penting tepat sasaran. Sesuaikan dengan kesepakatan adat, pilih yang dekat,” kata Jaro Dainah, dalam bahasa campuran Indonesia dan Sunda dialek Baduy.
Karena itulah, kebanyakan warga Baduy berniat memilih Haji Kasmin. Namun, mereka khawatir salah contreng karena umumnya mereka tak bisa membaca. ”Anu apal ngan Haji Kasmin, nu lain mah teu kararenal. Ngan teu nyaho, bener apa hemteu milihna (Yang kenal cuma Haji Kasmin, kalau yang lain tidak ada yang kenal. Tetapi tidak tahu benar atau tidak mencontrengnya),” tutur Kidang, warga Kampung Kadu Ketug.
Pada pemilu kali ini, warga Baduy memutuskan untuk membuka dua TPS khusus di Kampung Kadu Ketug dan Cikakal Girang. Jaro Dainah sebagai wakil masyarakat adat Baduy di pemerintahan membagikan surat panggilan memilih kepada 6.321 warga di 49 kampung di Baduy Luar dan tiga kampung di Baduy Dalam.
Karena itulah, sebagian besar warga Baduy Luar memilih untuk mencontreng terlebih dahulu sebelum berangkat ke Baduy Dalam untuk mengikuti upacara adat kawalu. Hampir semua warga Baduy Dalam yang tinggal di Kampung Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik memilih tidak mencontreng karena tak ingin upacara kawalu terganggu.
Di luar TPS di gedung SD Ciptagelar itu, sejumlah lelaki warga adat duduk melingkar sambil mengobrol. Suryani (40), salah satu di antara mereka, mengaku belum memiliki pilihan. ”Banyak sekali partainya. Saya juga tidak kenal calonnya.”
ini masih soal berulangnya apa yang saya alami lima tahun lalu di cikeas. meskipun aktornya atau pelaku utamanya berbeda, tetapi alur cerita dan maksud di balik cerita yang dilakonkan oleh pelaku utamanya itu sama saja. ya, kedekatan dengan mereka yang diperkirakan akan memegang kuasa. apa yang saya saksikan di layar kaca menjadi nyata juga di cikeas sana. yang saya saksikan di layar kaca adalah persaingan untuk menjadi acuan bagi pemirsa sebagai televisi pemilu. semua stasiun televisi memang bersaing. namun, persaingan paling keras terjadi di antara dua televisi saja. ya. metro tv yang mengusung diri sebagai the election channel dan tv one yang mengusung diri sebagai tv pemilu. persaingan itu nyata di cikeas sejak kampanye dan makin nyata sejak hari pencontrengan di tps 03, nagrak, gunung putri, bogor, jawa barat. saat kampanye, posisi masing-masing pemilik media terlihat jelas dalam pemberintaannya. tv one oleh tim kampanye pak beye dipuja-puji sementara metro tv dianggap sepi. dalam persaingan yang mewujud nyata di pendapa cikeas itu, wartawan metro tv yang jumlahnya puluhan harus dengan perih hati menyaksikan apa yang terjadi. tak satu pun dari lima layar lebar televisi di pendapa cikeas yang menyetel program metro tv. metro tv terlarang disetel di pendapa cikeas. tv one telah memenangkan pertarungan dan telah dilirik dan disukai kekuasaan. jika metro tv yang memenangkan pertarungan, langkah serupa pasti juga dilakukan. kondisi di pendapa cikeas ini jelas berbeda dengan kondisi lima tahun lalu. lima tahun lalu, metro tv menjadi semacam official broadcaster untuk segala macam kegiatan di cikeas. tidak hanya puluhan wartawan yang hadir di sana, tetapi bahkan pak surya paloh turut serta memandangi program metro tv dari beberapa layar lebar tv yang dipasang di sana. pak surya juga asyik berbincang dengan pak beye di depan layar metro tv menjelang pesta kemenangannya dalam pilpres putaran kedua. puluhan wartawan metro tv hanya mengelus dada ketika menyaksikan tak satu pun dari lima layar lebar tv di pendapa cikeas yang memutar program acara mereka. untuk menghibur diri, mereka berkata sambil tertawa, “di dalam ruang keluarga, pak beye nyetelnya metro tv.” mungkin betul juga kata mereka. melihat diri dari sisi cerah melulu kan juga tidak membuat nyaman di hati. itu bunyi batin saya. posisi pemilik media memang membawa pengaruh juga. tidak hanya kepada pemberitaannya, tetapi juga ketika kekuasaan ingin memilih dan bernyaman-nyaman dengannya. bagaimana posisi anda?













Saur Prabu Siliwangi ka balad Pajajaran anu milu mundur dina sateuacana ngahiang: Lalakon urang ngan nepi ka poé ieu, najan dia kabéhan ka ngaing pada satia! Tapi ngaing henteu meunang mawa dia pipilueun, ngilu hirup jadi balangsak, ngilu rudin bari lapar. Dia mudu marilih, pikeun hirup ka hareupna, supaya engké jagana, jembar senang sugih mukti, bisa ngadegkeun deui Pajajaran! Lain Pajajaran nu kiwari, tapi Pajajaran anu anyar, nu ngadegna digeuingkeun ku obah jaman! Pilih! ngaing moal ngahalang-halang. Sabab pikeun ngaing, hanteu pantes jadi Raja, anu somah sakabéhna, lapar baé jeung balangsak.
Sakabéh turunan dia ku ngaing bakal dilanglang. Tapi, ngan di waktu anu perelu. Ngaing bakal datang deui, nulungan nu barutuh, mantuan anu sarusah, tapi ngan nu hadé laku-lampahna. Mun ngaing datang moal kadeuleu; mun ngaing nyarita moal kadéngé. Mémang ngaing bakal datang. Tapi ngan ka nu rancagé haténa, ka nu weruh di semu anu saéstu, anu ngarti kana wangi anu sajati jeung nu surti lantip pikirna, nu hadé laku lampahna. Mun ngaing datang; teu ngarupa teu nyawara, tapi méré céré ku wawangi. Ti mimiti poé ieu, Pajajaran leungit ti alam hirup. Leungit dayeuhna, leungit nagarana. Pajajaran moal ninggalkeun tapak, jaba ti ngaran pikeun nu mapay. Sabab bukti anu kari, bakal réa nu malungkir! Tapi engké jaga bakal aya nu nyoba-nyoba, supaya anu laleungit kapanggih deui. Nya bisa, ngan mapayna kudu maké amparan. Tapi anu marapayna loba nu arieu-aing pang pinterna. Mudu arédan heula.
Daréngékeun! Nu kiwari ngamusuhan urang, jaradi rajana ngan bakal nepi mangsa: tanah bugel sisi Cibantaeun dijieun kandang kebo dongkol. Tah di dinya, sanagara bakal jadi sampalan, sampalan kebo barulé, nu diangon ku jalma jangkung nu tutunjuk di alun-alun. Ti harita, raja-raja dibelenggu. Kebo bulé nyekel bubuntut, turunan urang narik waluku, ngan narikna henteu karasa, sabab murah jaman seubeuh hakan.
Nu tutunjuk nyumput jauh; alun-alun jadi suwung, kebo bulé kalalabur; laju sampalan nu diranjah monyét! Turunan urang ngareunah seuri, tapi seuri teu anggeus, sabab kaburu: warung béak ku monyét, sawah béak ku monyét, leuit béak ku monyét, kebon béak ku monyét, sawah béak ku monyét, cawéné rareuneuh ku monyét. Sagala-gala diranjah ku monyét. Turunan urang sieun ku nu niru-niru monyét. Panarat dicekel ku monyet bari diuk dina bubuntut. Walukuna ditarik ku turunan urang keneh. Loba nu paraeh kalaparan. ti dinya, turunan urang ngarep-ngarep pelak jagong, sabari nyanyahoanan maresék caturangga. Hanteu arengeuh, yén jaman geus ganti deui lalakon.
Laju hawar-hawar, ti tungtung sagara kalér ngaguruh ngagulugur, galudra megarkeun endog. Génjlong saamparan jagat! Ari di urang ? Ramé ku nu mangpring. Pangpring sabuluh-buluh gading. Monyét ngumpul ting rumpuyuk. Laju ngamuk turunan urang; ngamukna teu jeung aturan. loba nu paraéh teu boga dosa. Puguh musuh, dijieun batur; puguh batur disebut musuh. Ngadak-ngadak loba nu pangkat nu maréntah cara nu édan, nu bingung tambah baringung; barudak satepak jaradi bapa. nu ngaramuk tambah rosa; ngamukna teu ngilik bulu. Nu barodas dibuburak, nu harideung disieuh-sieuh. Mani sahéng buana urang, sabab nu ngaramuk, henteu beda tina tawon, dipaléngpéng keuna sayangna. Sanusa dijieun jagal. Tapi, kaburu aya nu nyapih; nu nyapihna urang sabrang.
Laju ngadeg deui raja, asalna jalma biasa. Tapi mémang titisan raja. Titisan raja baheula jeung biangna hiji putri pulo Dewata. da puguh titisan raja; raja anyar hésé apes ku rogahala! Ti harita, ganti deui jaman. Ganti jaman ganti lakon! Iraha? Hanteu lila, anggeus témbong bulan ti beurang, disusul kaliwatan ku béntang caang ngagenclang. Di urut nagara urang, ngadeg deui karajaan. Karajaan di jeroeun karajaan jeung rajana lain teureuh Pajajaran.
Ti dinya datang budak janggotan. Datangna sajamang hideung bari nyorén kanéron butut, ngageuingkeun nu keur sasar, ngélingan nu keur paroho. Tapi henteu diwararo! Da pinterna kabalinger, hayang meunang sorangan. Arinyana teu areungeuh, langit anggeus semu beureum, haseup ngebul tina pirunan. Boro-boro dék ngawaro, malah budak nu janggotan, ku arinyana ditéwak diasupkeun ka pangbérokan. Laju arinyana ngawut-ngawut dapur batur, majarkeun néangan musuh; padahal arinyana nyiar-nyiar pimusuheun.
Jayana buta-buta, hanteu pati lila; tapi, bongan kacarida teuing nyangsara ka somah anu pada ngarep-ngarep caringin reuntas di alun-alun. Buta bakal jaradi wadal, wadal pamolahna sorangan. Iraha mangsana? Engké, mun geus témbong budak angon! Ti dinya loba nu ribut, ti dapur laju salembur, ti lembur jadi sanagara! Nu barodo jaradi gélo marantuan nu garelut, dikokolotan ku budak buncireung! Matakna garelut? Marebutkeun warisan. Nu hawek hayang loba; nu boga hak marénta bagianana. Ngan nu aréling caricing. Arinyana mah ngalalajoan. Tapi kabarérang.
Nu garelut laju rareureuh; laju kakara arengeuh; kabéh gé taya nu meunang bagian. Sabab warisan sakabéh béak, béakna ku nu nyarekel gadéan. Buta-buta laju nyarusup, nu garelut jadi kareueung, sarieuneun ditempuhkeun leungitna nagara. Laju naréangan budak angon, nu saungna di birit leuwi nu pantona batu satangtung, nu dihateup ku handeuleum ditihangan ku hanjuang. Naréanganana budak tumbal. sejana dék marénta tumbal. Tapi, budak angon enggeus euweuh, geus narindak babarengan jeung budak anu janggotan; geus mariang pindah ngababakan, parindah ka Lebak Cawéné!
Nu kasampak ngan kari gagak, keur ngelak dina tutunggul. Daréngékeun! Jaman bakal ganti deui. tapi engké, lamun Gunung Gedé anggeus bitu, disusul ku tujuh gunung. Génjlong deui sajajagat. Urang Sunda disarambat; urang Sunda ngahampura. Hadé deui sakabéhanana. Sanagara sahiji deui. Nusa Jaya, jaya deui; sabab ngadeg ratu adil; ratu adil nu sajati.


































Untk mnjadi bagian dari DBS ini memerlukan perjalan yg panjang dan berliku… diawali dengan keingintahuan ttg status DBS dlm pandangan hukum islam, sesudah mendengar langsung dari pimpinan DBS, lalu membaca fatwa MUI kodya Bdg, diskusi bersama Prof.DR.KH.Miftah Faridl ketua MUI Bdg, dilanjutkan diskusi bersama DR.Syafii Antonio yg kita kenal sbg pakar ekonomi syariah, maka diputuskan bergabung. Dgn niat sbg upaya mmbantu mmbuka lapangan kerja bg masyarakt luas dlm situasi ekonomi yg sdng sulit, mmbantu membina agr member smkin mningkat keimanannya dan bersinergi utk mmberdayakn dhuafa dg zakat infak shodaqoh. Bagi siapapun yg akn brgabung, silakan luruskan niat, dan jalani dg sungguh2 dijalan Allah SWT dan bila sdh dititipi rizki berbagilah dengan sesama. Terimakasih. -Abdullah Gymnastiar DBS1302960-
Seorang mahasiswa Teknik Fisika 2003 ITB memulai bisnis DBS dgn kondisi minus(dari tidak punya apa2 & ortu terlilit utang). Sekarang sudah menjadi Gold Ent. INDONESIA (dalam hitungan bulan). Kini beLiau memiliki penghasilan PASIF lebih dari 3 jt/hari atau lebih dari 100juta/bulan, bisa melunasi hutang-hutang orangtuanya, menghajikan kedua orang tuanya & membelikan keduanya Toyota Rush Terbaru. Saat ini beliau memiliki sebuah Mobil Mewah BMW & mobil sport CeLica, serta properti rumah&kos2an senilai 1 MILYAR!! Bp.Randu:”DBS memang DAHSYAT!! DBS bukan sekedar bisnis, tapi juga menawaran Sekolah Bisnis yang telah terbukti mencetak puluhan jutawan dari latar belakang apapun. Apakah Anda Ingin Berubah?? apakah Anda ingin menjadi orang Luar biasa?? Apakah Anda ingin menjadi orang yang berarti bagi orang2 disekitar Anda?? DBS SOLUSINYA. DBS is The BeST!! (FS: randu_sekti@yahoo.com)
















