Amalia Muzzatin, face book. 13 Juni 2009
Renungan :
“Manusia disebut sebagai makhluk Pelupa, Bersediakah tuan menunjukkan kepada kami, atau hal-hal yang dilupakan, manusia yang berkaitan dengan Alloh SWA sebagai Penciptanya”, pinta salah seorang murud kepada Abu Qubaisy ketika guru besar itu baru saja usai menyampaikan kata pengantar pembuka majelis taklimnya.
Pagi itu, dalam kata pengantar tersebut beliau memang berbicara banyak mengenai kaitan hubungan Khalik dengan makhluk-Nya. Namun tidak sempat sedikit pun menyinggung sifat Pelupa dari manusia. Mungkin itu sebabnya murid tersebut mempertanyakannya.
“Didalam kitabnya yang berjudul ‘Sirr al-asrar fi ma yahtaj ilayh al- abrar’, sufi besar Abd al-Qadir al- Jailani menyatakan bahwa alam semesta berikut isinya ini diciptakan Alloh dari cahaya yang disebut Nur Muhammad. Kemudian dicipta-Nya ruh Muhammad dari cahaya Ketuhanan. Al-Quran surat Al-Ma’idah ayat 15 menyatakan, ‘Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Alloh, dan kitab yang menerangkan’.
“Lalu mengapa manusia disebut Pelupa ?”…tanya murid lain sebelum Abu Qubaisy selesai menerangkan.
“Pada mulanya Nur itu berada di alam lahut, yaitu alam Ketuhanan. Kemudian di turunkan ke alam asma Alloh. Dari sana diturunkan lagi ke alam malakut yaitu alam Kemalaikatan. Kemudian diturunkan lagi ke alam ajsam yaitu alam benda-benda. Di sinilah ruh di beri jasad yang terdiri dari darah, daging, tulang, urat, dan sebagainya. Ini adalah tempat terendah di antara alam-alam yang disebutkan tadi. Al-Qur’an surat at-Tin ayat 5 menyatakan, ‘Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya.
Karena ruh melekat dengan jasad, maka sifat Pelupa pun melekatlah. Bahkan kepada Alloh pun manusia bisa lupa. Padahal ketika di alam ruh mereka sudah ditanya sebagaimana dipaparkan Qur’an surat al-A’raf ayat 172, ‘Bukankah Aku ini Tuhan kamu ? mereka menjawab, benar dan kami bersaksi’. Bahkan di dalam surat al-Qashash ayat 39 Alloh menyatakan, ‘Dan mereka mengira bahwa mereka tidak akan kembali lagi kepada Kami’.
“Demikianlah Lupa demi Lupa terjadi”, jelas Abu Qubaisy yang direspons semua muridnya dengan anggukan kepala. *




