Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh manusia dalam upaya memperbaiki diri dan masa depan, berbicara pendidikan maka tidak akan lepas dari biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua yang memiliki anak yang akan memulai mengenyam pendidikan ataupun orang tua yang akan menyekolahkan putra dan putri mereka ke jenjang yang lebih tinggi dari jenjang sebelumnya.
Bagaimana dengan biaya pendidikan pada sekolah-sekolah negeri ataupun sekolah swasta? Tentunya kita tidak heran bila biaya pendidikan sangat tinggi, terlebih sekolah-sekolah swasta bonafide yang sudah berkiprah didunia pendidikan puluhan tahun yang lalu, bahkan sekolah-sekolah yang baru bermunculanpun memasang tarif yang cukup mahal pula, karena memang lebih mengutamakan mutu. Namun ada pula sekolah yang sudah ada sejak jaman penjajahan sampai saat ini seolah-olah hidup segan mati tak mau, karena eksistensinya masuh dibutuhkan oleh masyarakat kelas menengah ke bawah.
Kota Bogor sebagai kota yang berkategori kota sedang, banyak menyimpan gudang ilmu dari mulai jenjang Taman Kanak-kanak hingga Perguruan Tinggi, adapun jumlah TK,SD,SMP maupun SMA sudah tidak dapat dihitung dengan dua belah jari, hal ini menandkan bahwa gudang-gudang ilmu tersebut sudah teramat banyak. Pertanyaannya sekarang sudahkan sekolah-sekolah tersebut lebih mengedepankan mutu ?
Jawaban sejujurnya tentu ada pada para pengelola lembaga pendidikan tersebut, ada sekolah yang lebih mengutamakan mutu, maka tak heran bila sekolah tersebut cukup tinggi biaya pendidikannya, ada pula yang pengelolaannya alakadrnya, yang penting ada siswanya dan mampu mengoperasionalkan lembaga pendidikan tersebut walaupun harus berjalan tertatih-tatih. Namun ada pula lembaga pendidikan yang sedang berusaha mengutamkan mutu pendidikannya sehingga sekolah tersebut berkategori mahal tidah murahpun tidak akan tetapi terjangkau oleh masyarakat pada umumnya.
Dalam kesempatan ini penulis coba memaparkan beberapa telaahan yang merupakan hasil wawancara dengan para tokoh pendidikan baik dari kalangan dinas pendidikan, unsur sekolah, masyarakat dan siswa.
Biaya Pendidikan Tidak Bisa distandarkan
Dra. Alit Maryanah, M.Pd sebagai Kepala Bidang Umum Dinas Pendidikan Kota Bogor mengatakan bahwa: “biaya pendidikan bagi tiap-tiap lembaga pendidikan tidak sama, karena sesuai dengan kebutuhan lembaga pendidikan masing-masing, oleh karena itu biaya pendidikan bersifat relatif mengenai tinggi rendahnya”, Alit Maryanah lebih lanjut mengatakan, banyak masyarakat berasumsi bahwa biaya sekolah itu gratis, padahal dengan adanya BOS, BKM dan lain-lain itu hanya bersifat bantuan stimulan yang sifatnya membantu sekolah dalam upaya meringankan biaya pendidikan orang tua, beliaupun berasumsi apabila sekolah gratis maka hasilnyapun alakadarnya atau boleh dikatakan tidak akan ada hasilnya.
BOS diberikan oleh pemerintah kepada sekolah-sekolah tidak begitu berpengaruh pada peningkatan mutu pendidikan tapi sifatnya hanya mengurangi biaya yang dikeluarkan oleh orang tua, beliau memberikan contoh mengenai pemberian BOS, bila sekolah memprogramkan anggaran biaya sekolahnyha atau RAPBSnya sebesar Rp. 10.000.000,- ( Sepuluh juta rupiah ) per tahun untuk 400 orang siswa misalnya, dan sekolah tersebut mendapatkan BOS sebesar Rp. 40.000.000,- ( Empat puluh juta rupiah ) untuk 400 orang siswa, maka BOS tersebut sangat membantu sekolah tersebut dalam mengoperasionalkan lembaga pendidikannya, dan itupun terjadi di daerah-daerah pinggiran, untuk daerah tersebut BOS begitu berarti, namun BOS yang diberikan untuk sekolah-sekolah yang berada diperkotaan tidak begitu banyak memberikan pengaruh terhadap biaya pendidikan siswa, kalaupun ada hanya bersifat sedikit meringankan beban biaya orang tua untuk membayar SPP, untuk biaya sehari-hari ya tetap tinggi kata Dra. Alit Maryanah, M.Pd. sambil menutup perbincangannya.
Biaya Pendidikan Memang Tinggi
Penulis berhasil menemui Seorang tokoh pendidikan yang juga mantan Kepala SMA Kesatuan Bogor dan saat ini beliau menjabat Kepala SMA BBS, juga aktif di MKKS, Sekretaris BMPS dan juga mantan aktifis HMI serta Pengurus ICMI Orwil Bogor beliau adalah
Drs. Hasanul Arifin Attha, MM. Disela-sela kesibukannya penulis berhasil menemuinya di Kantor Dinas Pendidikan Kota Bogor, beliau mengatakan bahwa : “ Biaya Pendidikan saat ini memang mahal, kenapa mahal ? karena memang banyak yang harus dipersiapkan, dan harus dibeli, contoh kecil saja, apabila anak akan praktik mata Pelajaran Kimia, maka zat-zat kimia yang harus dibeli … itu kan mahal, belum lagi honor guru yang harus diberikan tepat waktu, di awal bulan … kan tidak ada lagi guru yang cukup diberikan ucapan terima kasih, papar Hasanul lebih lanjut, belum lagi biaya operasional sekolah, dan lain-lain pokoknya.
Lebih lanjut Hasanul mengatakan bahwa apabila Pemerintah melaksanakan apa yang tertuang dalam GBHN yakni biaya pendidikan dikabulkan sebesar 20% maka beban biaya pendidikan masyarakat akan semakin rendah bahkan mungkin gratis. Saat ini Pemerintah melalui APBN nya baru mengabulkan sebesar 8,9 % dari total 20 %, berarti masih ada 11,1 % lagi APBN untuk biaya pendidikan yang belum terkabulkan. Lebih lanjut Hasanul mengatakan bahwa Pemerintah sudah tepat memberikan bantuan pada masyarakat melalui jalur BKM, BOM, Blok Grand, BOS dll, yang jelas dengan program tersebut masyarakat ekonomi lemah sudah sangat terbantu untuk melanjutkan pendidikannya sampai selesai.
Biaya Sekolah Gratis ?
Mungkinkah biaya sekolah gratis ? jawabannya Bisa ya, bisa tidak. SMP terbuka salah satu bentuk sekolah gratis, yang seluruhnya dibiayai oleh pemerintah baik sarana maupun prasaranya yang diperuntukan bagi mereka-mereka yang kurang beruntung dalam bidang ekonomi usia 12-15 tahun atau usia sekolah tingkat lanjutan pertama, sebagai perwujudan pelaksanaan wajib belajar 9 tahun, bermutukah ? jawabannya bila bermutu banyak orang tua yang akan menyekolahkan putra putrinya di SMP terbuka. Kenyataannya bisa dilihat beberapa sekolah negeri yang menyelenggarakan SMP Terbuka. Pemerintah terus berupaya menyelenggarakan berbagai proses pendidikan dalam rangka memberikan kesempatan pada para orang tua yang mengalami kesulitan ekonomi.
Drs. Heri Susanto salah seorang guru di sebuah SMP Negeri di Kabupaten Bogor, tepatnya di SMP Negeri 1 Megamendung mengatakan bahwa, “ Biaya pendidikan yang dirasakan mahal oleh orang tua adalah biaya awal tahun pelajaran, dimana orang tua harus menyiapkan keuangan dengan jumlah yang tidak sedikit, lebih lanjut Heri mengatakan mahalnya biaya yang harus dikeluarkan oleh orang tua atau kocek siswa sindiri adalah berkaitan dengan kegiatan pentas seni, bimbingan belajar, try out, ekstrakurikuler, dan termasuk biaya atribut sekolah yang dirasakan mahal karena harus diseragamkan untuk seluruh siswa, lain halnya bila orang tua siswa yang berusaha mencari seragam sendiri mungkin harganya bisa lebih murah, hal ini dilakukan untuk sedikit mengurangi beban besarnya biaya.
Lebih lanjut Heri Susanto mengatakan bahwa BOS yang diberikan oleh pemerintah kepada sekolah-sekolah merupakan dana talangan yang sifatnya insidentil, sehingga sekolah tidak menggantungkan diri pada dana BOS, skala prioritas yang dibutuhkan sekolah merupakan kemutlakan bagi suatu sekolah, sehingga tidak ada istilah penghamburan biaya akan tetapi terjadi pengefektifan penggunaan biaya.
Ditanya mengenai sekolah yang berbisnis murni mencari keuntungan, Heri mengatakan bahwasanya tidak ada lembaga pendidikan yang murni mencari keuntungan akan tetapi disela-sela menjual jasa pendidikan merekapun masih ada aksi sosialnya yang diperuntukan bagi masyarakat ekonomi lemah. Berkaitan dengan mutu pendidikan Heri lebih menyoroti ke aspek teknis di sekolah, apakah sekolah sudah membuat RAPBS, apakah Komite Sekolah difungsikan ?. apabila kedua komponen penting itu telah berjalan dengan baik dan bersifat transparan, maka komite sekolah, guru dan komponen lain akan peduli yang tentunya mereka merasa dihargai, dengan demikian mereka akan memiliki rasa memiliki terhadap sekolah sangat tinggi, sehingga timbul rasa dan keinginan bagaimanan mereka dapat mengembangkan sekolahnya, kata Heri sambil menutup pembicaraannya karena beliau ditinggu siswa di kelas.
BOS Buku
Upaya Pemerintah dalam meningkatkan mutu pendidikan dan meringankan biaya pendidikan bagi masyarakat terus dilakukan, bila kemarin telah dikeluarkan JPS, BOS, BKM, Block Grant dan lain-lain, dalam waktu dekat akan mengeluarkan kembali bantuan bagi masyarakat ekonomi lemah, terutama propinsi-propinsi yang motivasi belajar masyarakatnya masih rendah, yakni dalam bentuk Bantuan Operasinal Sekolah khusus untuk buku pelajaran (Buku paket) BOS Buku, yang disinyalir bahwa tingginya biaya pendidikan salah satunya diakibatkan tingginya harga buku pelajaran yang harus dimiliki oleh siswa. Munculnya BOS Buku ini sedikit banyak mengurangi beban biaya pendidikan, ujar Drs. Ai Rahmat, salah seorang orang tua siswa yang saat ini bersekolah di sebuah sekolah negeri yang ada di Kota Bogor. BOS buku ini adalah biaya yang dikeluarkan oleh Pemerintah untuk siswa sebesar Rp. 120.000,- ( sweratus dua puluh ribu rupiah ) per siswa, dana tersebut dialokasikan khusus untuk membeli buku paket pembelajaran.
Ai Rahmat mengatakan bahwa buku yang dimiliki anak pertamanya saat ini tidak dapat di pergunakan oleh adiknya atau tetangganya, karena setiap semester harus selalu berganti-ganti itu salah satu faktor yang membauat biaya pendidikan tinggi.
BOS Buku diberikan pemerintah untuk siswa dalam bentuk pembuatan buku paket pembelajaran untuk lima tahun, sehingga siswa tidak harus berganti buku setiap semester, akan tetapi sekolah yang m,endapatkan bantuan BOS Buku harus menyediakan buku paket pembelajaran sebanyak siswa, dan siswapun dapat menggali ilmu dari perpustakaan secara maksimal dan pemanfaatan perpustakaanpun dapat secara maksimal.
Pucuk dicinta ulampun tiba, rupanya jeriatan hati dari Ai Rahmat di dengar Allah SWT, sehingga ada sedikit pengurangan biaya dan tidak harus membeli buku paket lagi, karena perpustakaan sudah menyediakannya untuk lima tahun kedepan ujar Ai.
Tingginya Biaya Pendidikan Relatif
Ayun Erwina seorang siswi kelas XI IPA 5 SMA Negeri 1 Bogor yang juga siswa terpilih dan telah lulus seleksi dalam program Bina Antar Budaya yang salah satu programnya adalah AFS ( American Field Study ) atau program pertukaran pelajar anatar negara, Ayun saat ini sedang menunggu giliran ke negara mana ia akan diberangkatkan oleh pemerintah. Dalam kesempatan bincang-bincang tersebut, Ayun mengatakan bahwa tinggi rendahnya biaya pendidikan bagi setiap lembaga pendidikan sifatnya relatif, Ayun memberikan satu ilustrasi uang Rp. 100.000,- ( seratus ribu rupiah ), Ia mengatakan bahwa uang sebanyak itu bagi orang yang pengahsilan bulanan/mingguannya rendah sangat berarti, akan tetapi bagi orang yang penghasilannya tinggi uang sebesar itu tidak begitu berarti, dalam artian bahwa mereka mudah untuk mendapatkannya. Di SMA Negeri 1 Bogor sudah diterapkan GNOTA yakni memberikan bantuan bagi para siswa yang kebetulan membutuhkan biaya untuk membayar SPP deangan cara menghjimpun dana dari teman-teman sekelasnya, hal ini dilakukan untuk meringankan biaya pendidikannya.
Ditanya mengenai mutu pendidikan di Kota Bogor, Ayun mengatakan bahwa mutu pendidikan di Kota Bogor sudah cukup baik bila dibandingkan dengan kota dan kabupaten tetangga terdekatnya hal ini sejalan dengan pendapatnya Dra. Alit Maryanah, M.Pd. yang beasumsi bahwa mutu pendidikan di Kota Bogor sudah cukup baik, apalagi Bogor dijuluki Kota Pendidikan. Ayun tersenyum ketika ditanya mengenai mutu pendidikan di Indonesia dibandingkan dengan mutu pendidikan di luar negeri, … sangat jauh kali ya, kata Ayun sambil berlalu memohon izin pulang. Terima kasih Yun, semoga kamu jadi pelajar AFS yang sukses.
Dari hasil wawancara singkat ini dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa :
1. Biaya pendidikan memang cukup tinggi
2. Upaya pemerintah harus terus dilakukan untuk mengurangi beban biaya pendidikan
3. Program JPS, BKM, BOS, Blokc Grant harus lebih tepat sasaran
4. 20 % anggaran biaya pendidikan harus direalisasikan
5. Mutu pendidikan akan meningkat manakala terjadi sinkronisasi dari semua aspek
6. Bagaimanapun tingginya biaya pendidikan maka masyarakat harus tetap bersekolah
Semoga tulisan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi dan pengetahuan bagi para pembaca.
(D’Abe clc).




